Minggu, 15 Januari 2012

Aku yang Memanggilmu Hujan


#30HariMenulisSuratCinta

Semarang, 16 Januari 2012

Dear my rain…
I wonder, would you read this letter? Do you have a time to answer all of my question for you? My rain, I’m waiting for you, here…

Kau selalu datang bersama cerita di tiap tetesan air yang kau turunkan. Di tiap bulir airmu itu juga aku berharap, aku dapat menemukan jawaban dari seribu tanyaku padamu.

Hai hujan, surat ini akan penuh tanya, tidak masalah bukan? Sekali ini saja, ijinkan aku bertanya, aku tau kau punya jawabannya.

Hai hujan yang dingin,
Bagaimana kau membuat aku selalu rindu?
Bagaimana kau membuat aku kemarau tanpa dirimu?
Bagaimana kau selalu membuat cerita dalam tiap hadirmu?
Bagaimana kau meneteskan rintikmu juga airmataku?
Bagaimana kau dapat bersembunyi dilangit?
Bagaimana kau selalu menciptakan sabar ketika aku lelah menantimu?
Bagaimana kau memberi aku ketegaran saat aku roboh memanggil-manggil namamu?
Bagaimana kau selalu membuatku berharap tentangmu?
Dan beri tahu aku hujan,
Bagaimana bisa aku bersembunyi sedang hatiku melonjak-lonjak saat kau hadir?
Bagaimana bisa aku menyentuhmu sedang kau goyah selalu tertiup angin?
Bagaimana bisa aku mendiamkanmu sedang hatiku diam-diam berbisik padamu?
Bagaimana bisa aku berpura-pura tak melihatmu sedang hatiku selalu mencari-carimu?
Bagaimana bisa aku mengabaikanmu sedang mataku sembunyi-sembunyi menatapmu?
Bagaimana bisa aku berhenti memanggilmu sedang mendung selalu memberiku harapan padaku?
Bagaimana aku harus bertahan dalam kemarau panjang sembari menantimu?
Bagaimana aku harus terus berdiri dalam dekap dinginmu dalam petir dan dalam angin?
Bagaimana aku harus menepismu saat kau datang mesti dingin menyertaimu?
Bagaimana aku harus melupakanmu jika kau terlanjur membuat banyak cerita dalam memoriku?
Apa aku terlalu bodoh sehingga aku begitu banyak bertanya padamu, hujan? Masih banyak pertanyaan dibenakku tentangmu, hujanku.
Jawablah satu atau dua pertanyaan jika kau sempat, namun jika tidak, abaikan pertanyaanku pun aku terima :’)

Dan kau yang aku panggil hujan,
Aku memanggilmu hujan, yang mendekapku dalam dingin, yang bercerita padaku dalam bisu, yang membuatku bertanya dalam diam, yang aku rindu dalam kemarauku.

Hujanku,
Tanpa angin, bagaimana bisa kau sampai di gurun tandusku?
Tanpa awan, bagaimana bisa kau menyublim dan membasahi kemarauku?
Aku menantimu, aku merindumu diatas gurun tandus dalam kemarauku…

Aku masih akan disini, hujan. Aku tak akan kemana-mana, tetap disini agar kau dapat menyapaku dengan mudah dan berbincang denganku saat kau mampir membasahi tanahku, dan aku akan berharap kau sudi menjawab pertanyaanku dalam surat ini.

Yang memanggilmu hujan,
@puputrisafitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar